Isakannya pecah
dikesunyian malam. Ia hanya berdua dengan Tuhannya, begitu dan sering begitu,
sendiri. Diingatnya ulang kata-kata manis yang pernah ia baca, mimpi-mimpi
indah yang pernah terangkai. Mimpi dan harap yang membuatnya berani untuk
memulai. Bibirnya bergetar, air matanya mengalir, tanpa berkata pun Tuhannya
pasti tau apa yang ia rasakan.
Pelajaran berharga
yang ia dapat dari hari-hari yang ia lalui bahwa di dunia ini tidak ada yang
abadi bahkan kebaikan sekalipun. Ia mulai menyadari, memeluk erat sebuah
harapan hanya akan membuatnya semakin hancur. Tekatnya bulat malam itu, melepas
harap adalah satu-satunya cara untuk pergi dari kekecewaan.
Dalam benaknya ia
terus berfikir, ia harus berbuat yang terbaik tak peduli apa yang akan ia
dapatkan nanti, membiarkan semuanya mengalir tanpa dugaan sedikitpun.
“Tuhan, kulepaskan
harapan ini. Aku sadar aku salah, berharap pada selain- Mu. Kemarin aku begitu
bahagia hingga aku lupa bahwa dibalik kebahagiaan itu ada campur tangan-Mu. Aku
lupa bahwa yang abadi hanya Engkau.”
Bagi ku, malam itu adalah malam yang indah buat mu. Tangis kesedihan itu terbayar dengan sebuah kesadaran yang
akan menyelamatkan. Bahwa dikemudian hari, kau tak harus lupa diri. Berserah,
melakukan yang terbaik dan bahagia karena Tuhan mu.
Kesedihan yang kau
renungkan akan mendewasakan mu, membuat mu menjadi manusia saat kau lari ke arah
yang tepat. Keikhlasan tak butuh suara, bahagia lah seterusnya dibawah bimbingan
Tuhan mu.
“Allah, thank u for
everything. I will try harder to do my best” someone.