Melepas Harap

Isakannya pecah dikesunyian malam. Ia hanya berdua dengan Tuhannya, begitu dan sering begitu, sendiri. Diingatnya ulang kata-kata manis yang pernah ia baca, mimpi-mimpi indah yang pernah terangkai. Mimpi dan harap yang membuatnya berani untuk memulai. Bibirnya bergetar, air matanya mengalir, tanpa berkata pun Tuhannya pasti tau apa yang ia rasakan.

Pelajaran berharga yang ia dapat dari hari-hari yang ia lalui bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi bahkan kebaikan sekalipun. Ia mulai menyadari, memeluk erat sebuah harapan hanya akan membuatnya semakin hancur. Tekatnya bulat malam itu, melepas harap adalah satu-satunya cara untuk pergi dari kekecewaan.

Dalam benaknya ia terus berfikir, ia harus berbuat yang terbaik tak peduli apa yang akan ia dapatkan nanti, membiarkan semuanya mengalir tanpa dugaan sedikitpun.
“Tuhan, kulepaskan harapan ini. Aku sadar aku salah, berharap pada selain- Mu. Kemarin aku begitu bahagia hingga aku lupa bahwa dibalik kebahagiaan itu ada campur tangan-Mu. Aku lupa bahwa yang abadi hanya Engkau.”

Bagi ku, malam itu adalah malam yang indah buat mu. Tangis kesedihan itu terbayar dengan sebuah kesadaran yang akan menyelamatkan. Bahwa dikemudian hari, kau tak harus lupa diri. Berserah, melakukan yang terbaik dan bahagia karena Tuhan mu.
Kesedihan yang kau renungkan akan mendewasakan mu, membuat mu menjadi manusia saat kau lari ke arah yang tepat. Keikhlasan tak butuh suara, bahagia lah seterusnya dibawah bimbingan Tuhan mu.
“Allah, thank u for everything. I will try harder to do my best” someone.


Pages (11)1234567 Next »