“Sebuah kejutan yang sangat indah
untuk akhirnya menyadari betapa menyenangkannya kesendirian itu.” ( Ellen
Burstyn )
Saya sombong. Sering
saya bertanya pada diri sendiri, apakah benar tuduhan segelintir orang itu? Hanya
karena saya jarang besosialisasi dengan teman-teman dilingkungan tempat saya
tinggal, hanya karena saya lebih sering menutup pintu kamar ketika sepulang
dari bekerja.
Saya senang
tersenyum pada banyak orang, tapi saya bingung sendiri jika harus banyak bicara.
Setiap kali saya dihadapkan pada situasi saya harus berkumpul dengan
teman-teman, saya merasa harus berubah menjadi orang lain yang banyak bicara
dan itu sangat menggangu. Pikiran saya benar-benar tidak bersama mereka walau
keadaan fisik saya tertawa bersama mereka. Saya selalu membayangkan kamar saya,
baju saya yang longgar, coklat panas, buku. Andai saat ini saya bisa berada
dikamar saya, alangkah menyenangkannya melahap setiap isi lembaran buku dan mengkhatamkan buku-buku yang saya beli atau
saya pinjam.
Saya senang bertemu
dengan banyak orang-orang baru, orang-orang yang bisa saya temui disebuah
perjalanan, orang-orang yang hanya saya
temui sesekali saja. Mengobrol dengan mereka, seperti dengan pedagang kaki
lima, nenek-nenek yang menjual pop mie dijalan, tukang angkut barang, saya
merasa nyaman. Ada informasi-informasi baru yang saya dapat, cerita pengalaman
hidup mereka yang membuat saya selalu bersyukur dengan hidup dan takdir yang
yang saya dapat.
Tidak munafik, saya
katakana saya tidak nyaman jika harus ngobrol dengan teman-teman yang hampir setiap
hari saya temui atau saya lihat dikantor maupun di lingkungan tempat tinggal. Entahlah,
topik apalagi yang harus saya angkat dalam obrolan dengan mereka. Saya merasa
bersemangat setiap kali berada pada pembicaraan yang mengangkat isu
pemerintahan, tapi siapa yang suka dengan topik-topik itu? Sinetron,
acara-acara reality show adalah tontonan dan pembahasan yang saya tidak tau sama
sekali karena saya tidak pernah mengijinkan diri saya untuk menikmati
penderitaan orang lain seperti yang disuguhkan dalam sinetron. Tapi pada
kenyataannya, itu adalah topik yang sering dibicarakan. Saya hanya bisa diam dan
menjadi pendengar tapi lebih sering saya seperti orang yang tidak peduli dan keluar
dari obrolan dan itu menyiksa karena saya seperti orang sombong yang tidak
ingin ikut dalam pembicaraan. Saya senang melihat acara komedi. Tapi tertawa
buat saya, ya sudah tertawa saja, nikmati setiap banyolan yang disuguhkan tanpa
perlu saya ceritakan lagi banyolan-banyolan tersebut kepada orang lain. Begitupun
dengan kesedihan dan kebahagiaan, saya lebih senang menyimpannya dan tidak
mengumumkannya kepada banyak orang.
Kadang saya
berfikir, apa ada yang salah dengan hidup saya dan diri saya. Kenapa saya tidak
bisa seperti mereka yang begitu welcome dengan orang lain, bisa membicarakan
apa saja dan tertawa lepas. Sedangkan saya, lebih senang berada di kamar dan
mematikan lampu teras agar tidak ada yang berkunjung ke kamar. Saya sempat
mencari tahu, apakah perilaku saya termasuk penyakit kejiwaan. Seiring
berjalannya waktu dan informasi-informasi yang saya dapat dari berbagai buku,
ternyata sifat seperti ini wajar, dan banyak orang menyebutnya innies atau introver.
Marti Olsen Laney mengatakan dalam bukunya, Introversi
dan eksroversi masing-masing adalah kutub dari rangkaian sebuah energi. Posisi
kita pada kutub-kutub itulah yang memprediksi cara kita memperoleh energi
kehidupan. Orang yang berada pada kutub introver akan berkonsentrasi ke
dalam dirinya untuk memperoleh energi. Sedangkan, orang yang berada pada kutub
ekstrover akan berkonsentrasi keluar dirinya untuk memperoleh energi. Kebanyakan
ekstrover sangat senang berbicara, melakukan aktivitas, dan bekerja sama dengan
orang lain. Mereka belum tentu lebih ramah dan periang dari kaum introvert. Intinya,
focus mereka terletak diluar diri mereka sendiri. Kaum ekstover mungkin akan
kesepian dan kehabisan tenaga jika mereka tidak dapat behubungan dengan orang
lain atau dunia luar. Mereka adalah orang-orang yang di akhir pesta akan
berkata dengan semangat “Habis ini kita mau ngapain lagi?”. Sebaliknya kaum
introvert mengisi ulang tenaga dari dunianya sendiri. Dunia yang berisi ide,
emosi, dan kesan yang mereka terima.Kaum introvert belum tentu pendiam dan
pemalu, namun fokus mereka terletak didalam pikirannya sendiri. Mereka perlu
tempat yang sunyi dan tenang agar dapat
merenung dan mengisi ulang energy nya. Dan biasanya, kaum introvert akan
mengatakan hal semacam ini “ Hmmmm, aku senang bisa bertemu lagi dengan Bill,
tapi syukurlah, aku lega karena pestanya sudah berakhir!”
Dari konsep ini, saya mulai dapat memahami
keperluan diri saya untuk berdiam diri, sendirian, dan mengisi ulang tenaga
saya. Dengan begitu saya dapat mengurangi rasa bersalah saat saya ingin
menghindar dari teman-teman saya. Akhirnya saya mengerti bahwa tidak ada yang
salah dengan diri saya, saya hanyalah seorang introver.
Dan saya tidak heran mengapa saya selalu merasa sendirian dalam menghadapi dunia ini. Tiga banding satu, itu adalah rasio ekstover dan introver. Dari ratio itu saya menyadari bahwa saya hidup dalam sebuah dunia yang sengaja disusun untuk para "outies" (sebutan untuk orang ekstrover) dan saya hidup dalam dunia mereka yaitu kaum ekstrover.
Dan saya tidak heran mengapa saya selalu merasa sendirian dalam menghadapi dunia ini. Tiga banding satu, itu adalah rasio ekstover dan introver. Dari ratio itu saya menyadari bahwa saya hidup dalam sebuah dunia yang sengaja disusun untuk para "outies" (sebutan untuk orang ekstrover) dan saya hidup dalam dunia mereka yaitu kaum ekstrover.
“Saya nyaman
menjadi diri sendiri walau hidup dalam lautan ekstrover”.
0 comments:
Post a Comment