Sebuah catatan lama yang baru sempat di posting.
“Tidak seharusnya kita membenci seseorang
hanya karena berbaju sama dengan para teroris, lalu membentur-benturkannya
setiap saat dengan Amerika. Dengan cerita saya ini, saya ingin kalian
tahu, saya berhutang budi dan nyawa pada seorang muslim. Dan itu cukup untuk
mengatakan, Islam bukanlah seperti para teroris yang memanipulasi pikiran dan
hati kita selama delapan tahun terakhir ini. Ibrahim Hussein telah menunjukan
padaku bahwa Islam itu begitu Indah, begitu teduh, dan sanggup mengorbankan
jiwa dan raganya demi nonmuslim seperti saya. Saya adalah manusia yang
sesungguhnya menganggap diri sendiri tidak berguna di dunia ini. Saya adalah
orang yang tidak pernah dikenal Abe sebelumnya, yang hanya dia kenal
beberapa jam sebelum kematiannya. Jones dan Azima, ijinkan saya berkisah
mengenai kejadian nyata dalam 100 menit yang mencekamkan itu …” (Philllipus
Brown )
Bagi saya dan mungkin untuk banyak orang yang
sudah membaca buku ini, bagian yang membuat mata berkaca-kaca adalah ketika
Phillipus Brown menceritakan kisah nya bersama Abe. Andai cerita ini nyata dan
dibaca banyak orang diseluruh dunia, mungkin akan memperbaiki pandangan dunia
terhadap Islam. Ibrahim Hussein memperkenalkan Islam dengan begitu indah, Islam
yang jauh dari kekerasan.
11 September 2001, dua pesawat berpenumpang
yang di bajak menabrakan badan pesawat ke Menara Kembar World Trade Center di
New York. Sejak hari itu, Amerika dan Islam, Islam dan Dunia tidak lagi sama.
Buku ini berkisah perjalanan Hanum dan Rangga
dari Wina, yang dengan keajaiban Allah mendapatkan kesempatan yang sama untuk
menginjakan kaki ke tanah Amerika. Hanum yang bekerja sebagai Reporter di
sebuah majalah Heute ist Wunderbar, mendapatkan tugas dari Gertrud yaitu
seorang jerman yang menjadi sahabat dan atasannya. Redaksi meminta Heute ist
Wunderbar menulis sebuah artikel tentang tragedi 11 September 2001 “Would the
world be better without Islam? ( akankah dunia lebih baik tanpa Islam? )”
Getrud meminta Hanum yang menulisnya dengan niat baik, jika seorang nonmuslim yang menulisnya pernyataan tersebut jelas akan terjawab “Ya” tapi jika ditulis oleh seorang muslim pasti akan berkesempatan dijawab “Tidak”. Sedangkan diwaktu yang sama Rangga juga harus ke Amerika untuk presentasi papernya yang mengambil tema tentang jutawan Amerika “Phillipus Brown”.
Getrud meminta Hanum yang menulisnya dengan niat baik, jika seorang nonmuslim yang menulisnya pernyataan tersebut jelas akan terjawab “Ya” tapi jika ditulis oleh seorang muslim pasti akan berkesempatan dijawab “Tidak”. Sedangkan diwaktu yang sama Rangga juga harus ke Amerika untuk presentasi papernya yang mengambil tema tentang jutawan Amerika “Phillipus Brown”.
Buku ini diceritakan dengan begitu bagus.
Antara kisah Hanum dan Rangga yang pada akhirnya menarik satu benang merah.
Nara sumber Hanum yaitu Azima Hussein yang kehilangan Ibrahim Hussein
pada tragedy WTC pada 11 September 2001 ternyata mempunyai kaitan dengan
Phillipus Brown yang merupakan seseorang yang menjadi tema dari paper yang
diangkat Rangga. Ibrahim Hussein ternyata adalah sosok yang menyelamatkan
Phillipus Brown pada tragedy tersebut dan membuat kehidupan Phillipus Brow
berubah menjadi lebih bermanfaat untuk banyak orang.
Pengambilan Judul “Bulan terbelah dilangit
Amerika” sangat cerdas. Buku ini menggambarkan betapa luasnya wawasan si
penulis. Kisah Phillipus Brown yang menemukan Azima Husein. Layaknya tentang
kisah yang pernah didengar Phillipus Brown tentang kisah nabi Muhammad membelah
bulan.
0 comments:
Post a Comment