Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 344 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 344 halaman
Panjang buku : 20 cm
Sebenarnya ini adalah judul buku
yang sudah lama saya baca, walau seperti informasi yang basi, saya coba tulis
informasi mengenai buku ini untuk menambah koleksi tulisan dalam blog saya
karena saya yakin gak semua orang sudah membaca buku ini.
Pemeran utama dalam cerita ini
adalah seorang wanita karir yang memiliki pekerjaan sebagai management
consultant di Jakarta yang tugas nya wari wiri keluar masuk negara orang. Her
name is Tanya Baskoro. Buku ini menceritakan kehidupan rumah tangga nya bersama
Aldebaran Risjad atau yang akrab di panggil Ale, seorang pria yang mempunyai
pekerjaan sebagai petroleum engineer yang memiliki waktu 5/5 yaitu 5 minggu
bekerja di rig di Teluk Meksiko dan 5 minggu libur yang dalam novel ini minggu-minggu
liburnya dihabiskan bersama Anya.
Novel ini diceritakan dalam sudut pandang Anya dan Ale yang membuat para pembaca memahami setiap kejadian dari sudut pandang Anya dan Ale yang membuat pembaca akan merasa senang, sedih, gemes, iyaa gemes “lu kok keras amat sih Nya! Ale itu baik! suami kayak Ale itu langka! Cuma gara-gara kesalahan yang dia gak sengaja dan gak dia sadari yang mungkin dia anggap itu bukan suatu hal yang bakal bikin lo terpukul trus lo diemin Ale sampe segitunya. Ya kurang lebih begitulah pemikiran negative yang muncul pas baca novel ini.
Novel ini diceritakan dalam sudut pandang Anya dan Ale yang membuat para pembaca memahami setiap kejadian dari sudut pandang Anya dan Ale yang membuat pembaca akan merasa senang, sedih, gemes, iyaa gemes “lu kok keras amat sih Nya! Ale itu baik! suami kayak Ale itu langka! Cuma gara-gara kesalahan yang dia gak sengaja dan gak dia sadari yang mungkin dia anggap itu bukan suatu hal yang bakal bikin lo terpukul trus lo diemin Ale sampe segitunya. Ya kurang lebih begitulah pemikiran negative yang muncul pas baca novel ini.
Pertemuan pertama nya dengan Ale terjadi di pesawat, penerbangan dari Sidney ke Jakarta. Tanya yang tanpa sengaja selama tiga jam tertidur di bahu Ale, yang kemudian bangun dan salah tingkah menyadari apa yang terjadi kemudian berlanjut menjadi perkenalan dan percakapan. Meraka saling tertarik, namun pertemuan baru kembali terjadi setelah sebulan perkenalan mereka dipesawat setelah Ale akhirnya berhasil mengumpulkan keberanian untuk menghubungi Anya. Setelah beberapa kali bertemu mereka akhirnya jadian dan setelah setahun berpacaran mereka memutuskan untuk menikah. Dan romantisnya, Ale melamar Anya didalam mobil dan di saksikan pak Supir saat Anya mengantar Ale menuju ke bandara.
Tidak sulit untuk jatuh cinta kepada
seorang Aldebaran Risjad. Dimata Tanya, Ale memiliki satu kualitas yang jarang
di temui pada laki-laki lain. Dia bisa mengubah situasi secanggung apapun
menjadi sesuatu yang seharus nya memang terjadi dan tidak perlu ditanyakan lagi
mengapa. Seperti hujan yang sudah sewajarnya membasahi tanah. Atau api
yang sudah seharus nya rasanya panas. Dalam dunia nyata, saya berharap banyak
pria yang mempunyai sifat seperti Aldebaran Risjad. Kalau ada, saya minta satu
ya, hehehe ^_^.
Dalam buku ini, Ale digambarkan sebagai sosok yang romantis, dewasa dan mengayomi. Seorang pria yang mampu berkorban untuk pasangannya. Hanya satu kekurangan Ale sebagai pasangan yang akhirnya menjadi inti cerita pada novel ini. Keretakan rumah tangga yang diakibatkan ketidak sengajaan nya mengutarakan kekecewaan akibat meninggalnya anak mereka saat dalam kandungan. Anya yang begitu terpukul dengan ucapan Ale yang seolah-olah menyalahkan nya, Anya yang tetap tidak memberikan maaf walau Ale berusaha sekuat kemampuan nya untuk memperbaiki kesalahan nya. Hidup dalam satu atap tapi tidak saling berkomunikasi sebagaimana layaknya pasangan suami istri, kebayangkan? Buku ini pas banget untuk pasangan muda yang sedang membangun rumah tangga. Ada point berharga yang bisa kita ambil dalam buku ini, bahwa kominikasi, saling menguatkan, tidak saling menyalahkan dan saling memaafkan sangat di perlukan dalam sebuah hubungan. Dan point yang juga penting untuk perempuan yang belum membangun rumah tangga seperti saya adalah menemukan another Aldebarab Risjad. Seorang pria yang begitu setia dan mengayomi wanita nya.
Dalam buku ini, Ale digambarkan sebagai sosok yang romantis, dewasa dan mengayomi. Seorang pria yang mampu berkorban untuk pasangannya. Hanya satu kekurangan Ale sebagai pasangan yang akhirnya menjadi inti cerita pada novel ini. Keretakan rumah tangga yang diakibatkan ketidak sengajaan nya mengutarakan kekecewaan akibat meninggalnya anak mereka saat dalam kandungan. Anya yang begitu terpukul dengan ucapan Ale yang seolah-olah menyalahkan nya, Anya yang tetap tidak memberikan maaf walau Ale berusaha sekuat kemampuan nya untuk memperbaiki kesalahan nya. Hidup dalam satu atap tapi tidak saling berkomunikasi sebagaimana layaknya pasangan suami istri, kebayangkan? Buku ini pas banget untuk pasangan muda yang sedang membangun rumah tangga. Ada point berharga yang bisa kita ambil dalam buku ini, bahwa kominikasi, saling menguatkan, tidak saling menyalahkan dan saling memaafkan sangat di perlukan dalam sebuah hubungan. Dan point yang juga penting untuk perempuan yang belum membangun rumah tangga seperti saya adalah menemukan another Aldebarab Risjad. Seorang pria yang begitu setia dan mengayomi wanita nya.
Dibalik filosofi pengambilan judul
Critical Eleven
Dalam dunia penerbangan ada yang namanya Critical Eleven. Sebelas menit yang paling kritis di dalam pesawat, yaitu tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Dalam sebelas menit ini, pars air crew harus berkonsentrasi penuh karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umum nya terjadi dalam rentang waktu Critical Eleven ini.
Dalam dunia penerbangan ada yang namanya Critical Eleven. Sebelas menit yang paling kritis di dalam pesawat, yaitu tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Dalam sebelas menit ini, pars air crew harus berkonsentrasi penuh karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umum nya terjadi dalam rentang waktu Critical Eleven ini.
Dalam hal ini,Ika Natassa menggambarkan hal tersebut sama dengan pertemuan
dengan orang-orang. Tiga menit pertama saat bertemu seseorang itu kritis
sifatnya dari kesan pertama. Senyum nya, gesture atau sikapnya, penampilan
fisiknya dimata kita. Semua terjadi dalam tiga menit pertama. Dan delapan menit
sebelum kita menjadi bagian dari hidup seseorang adalah senyum nya, tindak
tanduk nya, ekspresi wajahnya, tanda-tanda akhir pertemuan itu akan menjadi
" Andai kita punya waktu bareng lebih lama lagi"
Buku yang bagus untuk menambah koleksi.
Buku yang bagus untuk menambah koleksi.
0 comments:
Post a Comment