Showing posts with label Story. Show all posts
Showing posts with label Story. Show all posts

Melepas Harap

Isakannya pecah dikesunyian malam. Ia hanya berdua dengan Tuhannya, begitu dan sering begitu, sendiri. Diingatnya ulang kata-kata manis yang pernah ia baca, mimpi-mimpi indah yang pernah terangkai. Mimpi dan harap yang membuatnya berani untuk memulai. Bibirnya bergetar, air matanya mengalir, tanpa berkata pun Tuhannya pasti tau apa yang ia rasakan.

Pelajaran berharga yang ia dapat dari hari-hari yang ia lalui bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi bahkan kebaikan sekalipun. Ia mulai menyadari, memeluk erat sebuah harapan hanya akan membuatnya semakin hancur. Tekatnya bulat malam itu, melepas harap adalah satu-satunya cara untuk pergi dari kekecewaan.

Dalam benaknya ia terus berfikir, ia harus berbuat yang terbaik tak peduli apa yang akan ia dapatkan nanti, membiarkan semuanya mengalir tanpa dugaan sedikitpun.
“Tuhan, kulepaskan harapan ini. Aku sadar aku salah, berharap pada selain- Mu. Kemarin aku begitu bahagia hingga aku lupa bahwa dibalik kebahagiaan itu ada campur tangan-Mu. Aku lupa bahwa yang abadi hanya Engkau.”

Bagi ku, malam itu adalah malam yang indah buat mu. Tangis kesedihan itu terbayar dengan sebuah kesadaran yang akan menyelamatkan. Bahwa dikemudian hari, kau tak harus lupa diri. Berserah, melakukan yang terbaik dan bahagia karena Tuhan mu.
Kesedihan yang kau renungkan akan mendewasakan mu, membuat mu menjadi manusia saat kau lari ke arah yang tepat. Keikhlasan tak butuh suara, bahagia lah seterusnya dibawah bimbingan Tuhan mu.
“Allah, thank u for everything. I will try harder to do my best” someone.


Saya Hanya Seorang Introver


“Sebuah kejutan yang sangat indah untuk akhirnya menyadari betapa menyenangkannya kesendirian itu.” ( Ellen Burstyn )

Saya sombong. Sering saya bertanya pada diri sendiri, apakah benar tuduhan segelintir orang itu? Hanya karena saya jarang besosialisasi dengan teman-teman dilingkungan tempat saya tinggal, hanya karena saya lebih sering menutup pintu kamar ketika sepulang dari bekerja.
Saya senang tersenyum pada banyak orang, tapi saya bingung sendiri jika harus banyak bicara. Setiap kali saya dihadapkan pada situasi saya harus berkumpul dengan teman-teman, saya merasa harus berubah menjadi orang lain yang banyak bicara dan itu sangat menggangu. Pikiran saya benar-benar tidak bersama mereka walau keadaan fisik saya tertawa bersama mereka. Saya selalu membayangkan kamar saya, baju saya yang longgar, coklat panas, buku. Andai saat ini saya bisa berada dikamar saya, alangkah menyenangkannya melahap setiap isi lembaran buku dan  mengkhatamkan buku-buku yang saya beli atau saya pinjam.

Saya senang bertemu dengan banyak orang-orang baru, orang-orang yang bisa saya temui disebuah perjalanan, orang-orang  yang hanya saya temui sesekali saja. Mengobrol dengan mereka, seperti dengan pedagang kaki lima, nenek-nenek yang menjual pop mie dijalan, tukang angkut barang, saya merasa nyaman. Ada informasi-informasi baru yang saya dapat, cerita pengalaman hidup mereka yang membuat saya selalu bersyukur dengan hidup dan takdir yang yang saya dapat.

Tidak munafik, saya katakana saya tidak nyaman jika harus ngobrol dengan teman-teman yang hampir setiap hari saya temui atau saya lihat dikantor maupun di lingkungan tempat tinggal. Entahlah, topik apalagi yang harus saya angkat dalam obrolan dengan mereka. Saya merasa bersemangat setiap kali berada pada pembicaraan yang mengangkat isu pemerintahan, tapi siapa yang suka dengan topik-topik itu? Sinetron, acara-acara reality show adalah tontonan dan pembahasan yang saya tidak tau sama sekali karena saya tidak pernah mengijinkan diri saya untuk menikmati penderitaan orang lain seperti yang disuguhkan dalam sinetron. Tapi pada kenyataannya, itu adalah topik yang sering dibicarakan. Saya hanya bisa diam dan menjadi pendengar tapi lebih sering saya seperti orang yang tidak peduli dan keluar dari obrolan dan itu menyiksa karena saya seperti orang sombong yang tidak ingin ikut dalam pembicaraan. Saya senang melihat acara komedi. Tapi tertawa buat saya, ya sudah tertawa saja, nikmati setiap banyolan yang disuguhkan tanpa perlu saya ceritakan lagi banyolan-banyolan tersebut kepada orang lain. Begitupun dengan kesedihan dan kebahagiaan, saya lebih senang menyimpannya dan tidak mengumumkannya kepada banyak orang.

Kadang saya berfikir, apa ada yang salah dengan hidup saya dan diri saya. Kenapa saya tidak bisa seperti mereka yang begitu welcome dengan orang lain, bisa membicarakan apa saja dan tertawa lepas. Sedangkan saya, lebih senang berada di kamar dan mematikan lampu teras agar tidak ada yang berkunjung ke kamar. Saya sempat mencari tahu, apakah perilaku saya termasuk penyakit kejiwaan. Seiring berjalannya waktu dan informasi-informasi yang saya dapat dari berbagai buku, ternyata sifat seperti ini wajar, dan banyak orang menyebutnya innies atau introver.

Marti Olsen Laney mengatakan dalam bukunya, Introversi dan eksroversi masing-masing adalah kutub dari rangkaian sebuah energi. Posisi kita pada kutub-kutub itulah yang memprediksi cara kita memperoleh energi kehidupan.  Orang yang berada pada kutub introver akan berkonsentrasi ke dalam dirinya untuk memperoleh energi. Sedangkan, orang yang berada pada kutub ekstrover akan berkonsentrasi keluar dirinya untuk memperoleh energi. Kebanyakan ekstrover sangat senang berbicara, melakukan aktivitas, dan bekerja sama dengan orang lain. Mereka belum tentu lebih ramah dan periang dari kaum introvert. Intinya, focus mereka terletak diluar diri mereka sendiri. Kaum ekstover mungkin akan kesepian dan kehabisan tenaga jika mereka tidak dapat behubungan dengan orang lain atau dunia luar. Mereka adalah orang-orang yang di akhir pesta akan berkata dengan semangat “Habis ini kita mau ngapain lagi?”. Sebaliknya kaum introvert mengisi ulang tenaga dari dunianya sendiri. Dunia yang berisi ide, emosi, dan kesan yang mereka terima.Kaum introvert belum tentu pendiam dan pemalu, namun fokus mereka terletak didalam pikirannya sendiri. Mereka perlu tempat yang  sunyi dan tenang agar dapat merenung dan mengisi ulang energy nya. Dan biasanya, kaum introvert akan mengatakan hal semacam ini “ Hmmmm, aku senang bisa bertemu lagi dengan Bill, tapi syukurlah, aku lega karena pestanya sudah berakhir!”

Dari konsep ini, saya mulai dapat memahami keperluan diri saya untuk berdiam diri, sendirian, dan mengisi ulang tenaga saya. Dengan begitu saya dapat mengurangi rasa bersalah saat saya ingin menghindar dari teman-teman saya. Akhirnya saya mengerti bahwa tidak ada yang salah dengan diri saya, saya hanyalah seorang introver.

Dan saya tidak heran mengapa saya selalu merasa sendirian dalam menghadapi dunia ini. Tiga banding satu, itu adalah rasio ekstover dan introver. Dari ratio itu saya menyadari bahwa saya hidup dalam sebuah dunia yang sengaja disusun untuk para "outies" (sebutan untuk orang ekstrover) dan saya hidup dalam dunia mereka yaitu kaum ekstrover.


“Saya nyaman menjadi diri sendiri walau hidup dalam lautan ekstrover”.



No Dream is Expired


Secangkir coklat panas yang masih mengepul, belum bisa saya nikmati karena masih terlalu panas jika saya paksakan bersentuhan dengan bibir.  Saya mulai melamun, tatapan saya nanar pada meja kerja yang penuh dengan dokumen-dokument yang belum rampung saya selesaikan. Saya kembali melihat layar monitor, tatapan saya kosong. Ingatan saya kembali pada mimpi saat mengenakan seragam putih abu-abu, bahwa keinginan terbesar saya saat lulus kuliah nanti adalah bekerja di perpustakaan milik Negara.  Bahwa di tempat itu, sebuah perpustakaan yang besar, saya akan banyak tahu buku apa saja yang masuk dan dimiliki Negara ini dan tentunya yang terpenting adalah saya akan berkesempatan memiliki takdir untuk membaca buku-buku tersebut. Mimpi saya, saya ingin banyak membaca dan banyak menulis dari apa yang saya baca dan saya lihat, itu saja.

Tapi takdir bekata lain, mimpi itu semakin samar ketika kebutuhan hidup menuntut untuk segera dipenuhi. Waktu yang saya punya kemarin dan dulu, sudah saya habiskan untuk membantu mengejar mimpi orang lain. Lalu saat ini, ketika saya asyik menerima bayaran atas mimipi-mimpi mereka yang berusaha saya wujudkan  tiba-tiba saya merindukan mimpi saya sendiri.

Ditempat orang lain ini, didunia yang bukan tempat saya bermimpi, entah sudah berapa judul buku yang saya lewatkan, saya benar-benar tidak tahu buku apa saja yang sudah singgah di Negara tercinta ini, siapa saja nama penulis yang sudah berhasil menempatkan buku-bukunya berjajar di rak. Yang mestinya saat mimpi itu terwujud, saya adalah orang yang lebih tahu.

Mimpi ini gratis dan kepala ini tidak pernah memungut uang sewa untuk tetap singgah dalam ingatan. Mimpi ini, yang baru saja saya rindukan kembali, belum bisa memaksa saya keluar dari zona nyaman, keluar dari zona betapa asyiknya menerima bayaran untuk mewujudkan mimpi orang lain. Tapi mimpi ini, sudah cukup untuk memberi semangat bahwa mimpi haruslah tetap dikejar because “no dream is expired”. Tak penting lagi dimana saya bekerja, yang terpenting adalah bagaiman saya berusaha mendapatkan takdir membaca buku-buku impian saya dengan banyak usaha. Karena untuk mewujudkan mimpi, Tuhan perlu tahu seberapa besar usaha kita untuk mewujudkannya.


Secangkir coklat panas sudah berubah menjadi secangkir coklat hangat. Kenikmatan tegukan yang menenangkan pikiran dengan semangat baru yang saya dapatkan dari lamunan tentang mimpi. Segera akan saya kejar mimpi ini, meski butuh waktu, usaha dan kesabaran untuk mewujudkannya. Seperti secangkir coklat panas yang tak bisa lansung saya minum, pada saat nya nanti dia akan menjadi secangkir coklat hangat yang akan menyuguhkan kenikmatan saat diteguk. 

Belajar terbang dari Ayam


Berapa usia kita hari ini?
Hal bermanfaat apa yang sudah kita upayakan?
Hal besar apa yang sudah kita lakukan?
Apakah kita yang kemarin masih sama dengan kita hari ini? Atau malah lebih buruk?
Berteman dengan orang yang senang berbisnis membuat kita menyenangi bisnis dan terjun dalam bisnis. Berteman dengan orang yang senang menulis membuat kita setidaknya mau menulis. Berteman dengan orang yang suka berias akan membuat kita mau berias. Berteman dengan orang yang senang mengeluh akan membuat kita juga nyaman dan terbiasa untuk mengeluh.
Itulah hebatnya teman, betapa lingkungan tempat kita beradaptasi begitu besar dampaknya untuk diri kita. Bisa melawan arus? Tentu saja bisa, tapi tentu juga tidak mudah!

Jika hari ini kita merasa belum melakukan hal besar atau bermanfaat mungkin kita belum punya seseorang yang bisa dijadikan panutan dalam hidup.
Perlu bagi manusia untuk memiliki sosok yang dijadikan panutan dalam hidupnya. Sebut saja panutan  itu adalah "role model" seseorang yang kita jadikan contoh. Kita memerlukan role model agar mempunyai gambaran lebih jelas akan kemana. Selain memerlulukan role model kita juga memerlukan seorang mentor. Mentor adalah orang yang yang akan mengarahkan kita secara langsung, seseorang yang akan membimbing kita selama perjalanan menuju tujuan. Mentor adalah orang yang lebih dahulu pernah berada di posisi kita.
"Belajarlah mengaum dari singa dan bukan dari kambing. Belajarlah terbang dari elang dan bukan  dari ayam"
Jika selama ini kita hanya hidup di lingkungan yang biasa saja, tentu kita akan menjadi biasa saja dan menjadi seperti kebanyakan orang. Untuk menjadi beda kita perlu keluar, dan bergaul dengan banyak orang. Berada dalam kotak, apa yang kita lihat hanya sebatas di dalam kotak itu saja, tapi ketika kita keluar dari kotak, betapa luasnya kita bisa melihat, tanpa batas. Di tempat yang luas kita bisa bebas mencari role model yang kita inginkan bahkan kita bisa menemukan yang hebat.

Misal, jika kita ingin menjadi seorang penulis. Temukan penulis yang bisa kita jadikan contoh. Memiliki role model bukan berarti kita harus sama persis seperti mereka, setidaknya mereka bisa memberikan gambaran lebih jelas akan pergi kemana. Role model dan mentor boleh orang yang sama atau pun orang yang berbeda. Kebanyakan mentor kita punya adalah orang tua yang akan selalu mengingatkan ketika kita mengambil jalan yang salah.
Berjanjilah untuk menjadi orang yang lebih bermanfaat dari sekarang, berhenti belajar dari ayam dan mulailah cari elang yang bisa membuat kita lebih baik dari hari kehari.
Jika kita masih berada dilingkungan yang dipenuhi orang-orang yang senang mengeluh, cukup diam jika memang kita tidak memiliki kalimat bermanfaat yang perlu dikatakan.

You are the captain of your life!



Rumput tetangga lebih hijau


Mengeluh.
Setiap orang pasti pernah mengeluh. Setiap keluhan yang keluar akan lebih besar peluang nya untuk membandingkan keberuntungan yang kita alami dengan keberuntungan orang lain. 

Berapa banyak diantara kita yang merasa rumput tetangga lebih hijau? Rejeki teman terlihat lebih besar?  Pekerjaan teman terlihat lebih sedikit di banding yang kita punya ? Seolah-olah kita adalah orang yang paling lelah sedunia. Tanpa sadar kita lebih sibuk membandingkan diri kita dengan orang lain, bukan nya sibuk membandingkan diri kita hari ini dengan diri kita kemarin agar diri kita esok lebih baik.

Rumput tetangga terlihat lebih hijau karena sang pemilik sibuk menyirami nya setiap hari. Sedangkan kita hanya sibuk melihat dia. Dia sibuk menjemput rejekinya, dia sibuk mengejar kebahagiaan nya, dia sibuk menutupi setiap kekurangan nya dengan kelebihan-kelebihan yang dia upayakan setiap hari. Sedangkan kita? Resah melihat dia mendapatkan rejeki lebih banyak, resah melihat dia lebih bahagia, dan resah karena dia memiliki banyak kelebihan yang tidak kita miliki.

Setiap kali kita merasa orang lain lebih beruntung keadaannya daripada yang kita alami, seharusnya kita kembali mengoreksi diri. Mungkin orang lain lebih pandai bersyukur sehingga kekurangan yang dia miliki tidak harus diumbar lewat keluhan-keluhan yang hanya akan menurunkan kwalitas diri kita.
Siapa yang tau rumput hijau yang kita lihat hanyalah rumput sintetis. Hanya saja dia pandai untuk menutupinya sehingga tidak perlu banyak orang tau bahwa itu hanyalah rumput buatan. 
Rumput yang kita punya yang selalu kita anggap tidak sehijau milik tetangga akan menjadi terasa hijau jika kita pandai menutupinya dengan perisai "rasa syukur".

Apakah  akan terlihat hebat ketika semua orang tau penderitaan-penderitaan yang kita alami? Tidak!
Apakah mereka ingin mendengar semua penderitaan yang kita alami? Tidak!
Hanya kita saja yang terlalu PD mengumumkannya kepada banyak orang. Tidak ada satu manusia pun sebenarnya yang memulai hari nya dengan pertanyaan "penderitaan apa yang sudah kamu alami hari ini?"
Mereka pun manuasia yang sama seperti kita. Manusia dengan segudang cobaan hidup, manusia yang juga memiliki masalah hidup. Jangan kita tambah lagi volume otak mereka dengan memori-memori yang kita anggap kesialan dalam hidup yang seolah-olah hanya kita sendiri yang mengalaminya.

Kita akan telihat lebih berkualitas ketika kita tidak mengeluh. Orang lainpun akan melihat rumput yang kita punya begitu hijau. Kita akan lebih di hargai ketika orang lain  tidak tahu bahwa sebenarnya kita tidak punya uang, kita akan lebih di hargai ketika kita terlihat tidak punya masalah.

Cukup diri kita sendiri yang tau masalah apa yang kita hadapi, jika kita ingin mencari jalan keluar atas masalah yang kita hadapi cukup bercerita kepada seseorang yang kita anggap mampu menolong kita mencarikan jalan keluarnya  dan bukan bercerita kepada banyak orang yang kita anggap seolah punya waktu untuk mendengar keluhan kita.

Berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain.
Cukup berlomba dengan diri kita yang kemarin bahwa "Riana hari ini harus lebih baik dari Riana yang kemarin. Agar Riana esok bisa lebih baik.
Ayo rubah nama "Riana" dengan nama mu, ini menyenangkan!!

Life is so short, enjou your life!


Pesta Demokrasi


Pesta Demokrasi, setiap kali datang berpeluang untuk saya kehilangan teman. Halaman facebook yang tiba-tiba penuh dengan postingan menjatuhkan atau memaparkan kekurangan salah satu calon, kata-kata kasar yang dengan tidak takut di tuliskan begitu saja padahal di baca oleh banyak orang. Jika kata-kata kasar itu sudah tertulis, tidak ada ragu untuk saya segera unfollow atau unfriend.

Sebenarnya saya sebal sekali setiap kali pesta Demokrasi datang, karena tiba-tiba disuguhkan postingan yang tidak bisa di terima oleh hati. Karena tiba-tiba begitu banyak teman yang tampil seolah benar sendiri. Mau tidak mau saya harus mengikuti jalannya politik, baik itu saya dapatkan dari membaca atau melihat lewat beberapa stasiun TV. Saya tidak mau mempercayai berita-berita negative tentang salah seorang calon hanya dari postingan segolongan orang, karena menurut saya itu lebih berpotensi mementingkan golongan.

Berbeda pandangan, boleh. Berbeda pilihan calon, tentu saja boleh. “ Tapi please, jangan menyuguhkan bahasa-bahasa yang tidak manusiawi. Dukung pilihan kita dengan cara yang baik, tidak perlu kita mencari-cari kekurangan calon pasangan lain. cukup kita share kelebihan-kelebihan pasangan calon yang kita usung, itu cukup!

Tidak dipungkiri, setiap kali pesta Demokrasi datang, kita sebagai rakyat repot sendiri. Ketika ada postingan yang menjelekan salah satu pasangan calon yang di usung, kita sibuk beradu argument lewat dunia maya, kita sibuk membenarkan diri, kita sibuk saling caci maki. Padahal pasangan calon yang di usung damai-damai saja. Sepertinya itu menjadi kelemahan kita, kita dengan cerobohnya menunjukan betapa kita ini mudah sekali diprovokasi oleh kalimat-kalimat yang tidak ada seorang pun yang bisa di mintai pertanggungjawabannya.

Pesta Demokrasi yang sehat itu, di isi dengan tulisan-tulisan yang menjelelaskan keunggulan  pasangan calon yang di usung karena bukan kah itu inti tujuan seseorang berkampanye “agar orang mengenal siapa dirinya” meyakinkan banyak orang bahwa dirinya layak untuk dipilih.

Kita sebagai pendukung tidak perlu sengotot itu menyakinkan banyak orang bahwa  pasangan calon yang kita usung adalah yang terbaik. Jadi warga yang sopan, fokus menilai apa yang di lakukan pasangan calon yang bersangkutan mengkampanyekan dirinya. Jika kita begitu ngotot meyakinkan orang lain agar satu paham dengan pilihan kita itu berarti kita tidak percaya dengan kemampuan pasangan calon tersebut untuk meyakinkan banyak orang, seolah kita yakin bahwa pasangan calon tersebut sebenarnya tidak layak untuk dipilih.

Membeberkan dan mencari-cari kekurangan orang lain itu berarti kita tidak punya kelebihan untuk diperlihatkan. Dan itu berlaku dalam pesta Demokrasi ini.




Berdalih Amal


Di awal bulan Oktober 2016, saya tertarik dengan buku yang dipasarkan secara online. Buku itu bertemakan pengalaman si penulis saat menulis buku-buku nya. Dan yang membuat saya lebih tertarik lagi karena buku itu tidak dijual di toko buku manapun termasuk Gramedia. Dalam iklan nya disebutkan 100% royalty akan disumbangkan, wahh mulia sekali penulis ini. Sempet mikir sih, nih buku tebel nya berapa halaman, tapi pertanyaan di kepala saya ini ternyata sudah ada yang mewakili, so buat apa saya mengulang pertanyaan yang belum di jawab sama empuh nya fanspage.  Ok, finaly saya ambil tuh buku, di kepala saya saat itu, buku dengan harga IDR 145.000 ya mungkin setipis-tipis nya adalah 300 halaman. Kenapa saya berfikir seperti itu, karena buku Sherlock Holmes yang saya punya, saya dapatkan dengan harga IDR 127.000, tebal nya lebih dari 800 halaman. Dengan sabar saya tunggu buku itu datang, sambil di kepala saya berulang kali membayangkan betapa senangnya saya saat menerima paketan buku tersebut karena yang selalu saya bayangkan adalah buku itu memiliki halaman yang tebal. Saya ini termasuk penggila buku-buku tebal karena sekalian untuk di pajang di koleksi rak buku. Satu minggu lebih beberapa hari  setelah pemesanan akhirnya  saya terima paket buku tersebut. Besar  paket nya sih gak layak di sebut buku ya, lebih ke paket kaset CD. Sempet gak percaya, "ini buku yang gw pesen? Gak salah?" Saya baca pengirim nya betul sih penerbit tempat penulis itu menulis buku. Setelah saya buka ternyata tebal halaman nya hanya 100 halaman dengan lebar buku seperti ukuran kaset CD. Saat saya baca halaman pertama nya, alasan buku itu mahal adalah untuk amal, 100 % royalti penulisan buku untuk di sedekahkan. Hello!!! royalti seorang penulis itu cuma 10% dari harga buku, mentok-mentok nya, royalti tinggi untuk penulis itu cuma 15%, kalo 15% dari harga yang saya beli berarti yang di sedekahkan hanya IDR 21.750, itu angka yang kecil untuk harga buku semahal itu. 

Saya mencoba menghibur kekecewaan dengan harapan  siapa tau buku yang tipis itu berisi informasi yang belum saya baca sebelumnya. Setelah selesai membaca buku itu, fiuhhh!!  Diluar harapan, saya membeli buku super mahal yang isi nya sudah saya ketahui sebelum nya dari sumber lain. Mungkin kekecewaan saya dari harga buku yang mahal dengan isi yang biasa aja akan terobati jika 80% dari harga penjualan buku untuk di sedekahkan. Tapi ya sudahlah, sebagai pengalaman saja, bahwa gak semua orang royal berbagi pengalaman dan ilmu.

Saya sengaja tidak menyebutkan judulnya apa dan siapa penulisnya, karena tujuan penulisan artikel ini bukan untuk menjatuhkan penjualan si penulis tapi lebih ke berbagi pengalaman dalam memilih buku. Untuk nextnya saya akan lebih berhati-hati jika membeli buku di media online. Untuk kita-kita penggila buku-buku tebal, lebih aman langsung membeli di toko buku karena kita langsung tau fisik buku nya seperti apa dan garis besar isinya apa.


Cara Berpikir Masyarakat Inggris Terhadap Barang


Kali ini saya akan mengemukakan pendapat saya tentang masyarakat Inggris. Jujur saya tertarik dengan gaya penampilan mereka dan sangat berminat mengikutinya. Dari buku-buku yang saya baca, jika saya simpulkan orang Inggris suka dengan barang bermerek. Baik itu orang kaya maupun orang miskin sekalipun, mungkin dengan alasan barang bermerek itu awet. Hanya perbedaannya tertelak pada berapa jumlah barang yang mereka punya. Untuk sebuah jam tangan misalnya, orang kaya bisa mempunyai lebih dari satu sedangkan orang miskin hanya mempunyai satu. Saya sangat tertarik dengan orang miskin di Inggris, walau dia seorang yang miskin atau sederhana tapi tetap menggunakan barang- barang bermerek. Ya mungkin benar tidak seperti orang kaya yang bisa gonta-ganti untuk satu jenis benda. Untuk mereka yang masuk dalam golongan miskin biasanya hanya mempunyai satu barang dan itu mereka pakai walau sampai usang. Barang- barang bermerek yang mereka punya seperti jam tangan, topi, mantel, sepatu. Tapi jika dipikir lebih dalam lagi sepertinya memang Inggris menjual barang yang bagus untuk warganya sehingga tidak ada pilihan untuk memiliki barang dengan kualitas tidak baik, ini mungkin loh karena saya belum mengetahui lebih jauh lagi.

Jadi inget sama nasehat papa, papa pernah bilang "kalo beli jam tangan yang mahal sekalian nak, yang ori. Jangan beli jam KW yang baru satu bulan udah ganti lagi, cuma punya satu gak apa-apa yang penting awet dan pas dipake gak malu-maluin karena KW". Hmmm kalo di pikir-pikir nasehat papa bener juga. Mungkin jika saya tidak membaca tentang kebiasaan masyarakat Inggris saya gak akan pernah ‘ngehhh’ dengan nasehat papa. Dan jika saya hitung-hitung jam tangan KW saya jika di jumlahkan hampir bisa beli jam tangan ori.
Sekarang, saya sudah taubat dari kebiasaan koleksi jam tangan KW, bahkan ketika saya sudah memiliki jam tangan ori, jam tangan KW saya sudah tidak pernah saya sentuh lagi selain batu jam nya yang cepat habis dan juga gatal jika dipakai.

Yang saya rasakan ketika hendak membeli barang ori atau barang yang sudah punya brand terkenal adalah dibutuhkan nya kesabaran karena harganya tidak murah jadi saya butuh kesabaran untuk menabung uang yang saya punya sedikit demi sedikit.
Ingat teman ‘‘harga gak bo-ong’’ so kenapa tidak kita rubah saja pola pikir “beli yang murah saja yang penting bisa gonta-ganti” diganti dengan “gak apa-apa mahal asal awet”. Memang tidak semua orang punya kemapanan financial, saya contohnya jika di sejajarkan dengan masyarakat Inggris sudah pasti saya tergolong kedalam masyarakat miskin lah wong di Indonesia saja saya masuk dalam golongan orang kurang mampu tapi gak ada salahnya kan pola pikir seperti ini kita terapkan.

Barang-barang bermerek yang harus kita upayakan memilikinya seperti jam tangan, jacket, sepatu/alas kaki, tas, dompet, ehhhm ada yang mau nambahin? Yah gak branded amat gak apa-apa setidaknya untuk benda-benda tersebut kita beli dengan harga di atas 200rb karena barang dengan harga tersebut biasanya sudah memiliki kualitas bahan yang bagus.

Brand yang saya paparkan disini tidak setingkat dengan barang yang digunakan artis loh, kita juga harus sadar dengan kemampuan dan kebutuhan kita dan mubajir juga rasanya jika untuk sebuah tas saja kita harus merogoh kocek hingga puluhan juta mending untuk membantu kebutuhan adik-adik kita yang di urus oleh yayasan. Banyak kok barang-barang bermerek di Indonesia yang harga nya masih terjangkau dengan saku kita yah walau kita harus menabung terlebih dahulu untuk memilikinya.
Harga gak bohong teman!!! ^_^



Mahal tapi awet, so kenapa enggak ??? ayooklah kita beli kualitas bukan kuantitas.

Penyebab Kartu ATM Tidak Dapat Digunakan



Udah satu bulan lebih vakum dari dunia blog, nasib karyawan gini nih kalo lagi super sibuk gak sempet buka-buka halaman tulis. Ehhm kali ini saya mau berbagi pengalaman saya ketika kartu ATM gak bisa di gunain sama sekali.
Waktu itu lagi musim maling di kosan saya, ada satu malam tepatnya di malam jumat pas banget ujan lagi turun gede-gede nya sekitar jam 2  pagi. Nah itu kan posisi orang enak-enak nya tidur, dingin pake selimut. Saya selalu menghidupkan alarm di pukul setengah 3 pagi, walau kondisi hujan biasanya saya selalu bangun saat alarm berbunyi tapi entah lah malam itu saya sama sekali tidak mendengar suara alarm, tiba-tiba saya bangun dengan dada berdegup kencang di pukul setengah 4 pagi karena saya seperti mendengar ada suara pukulan keras dari besi. Saya tidak berani melihat keluar jendela , saya hanya melihat ke dapur siapa tau ada alat masak yang terjatuh tapi ternyata kondisi di dapur saya aman. Ketika saya melihat ke dinding ternyata sudah jam setengah 4 pagi, ada penyesalan di hati saya karena saya terlambat bangun. Ketika saya hendak ke kamar mandi saya mendengar suara kunci di putar tanda tetangga sebelah membuka pintu, lalu saya memberanikan diri menengok ke luar jendela. Saya mendengar tetangga saya itu meneriakan ‘tehh ada maling, adaa maling teh’ lalu dari dalam saya menjawab dengan suara keras ‘dek, terika-teriak’ . saat itu saya tidak berani keluar dari kamar karena saya tidak memakai jilbab, setelah saya menemukan jilbab saya ,saya baru keluar dan saya lihat tetangga yang lain nya sudah berhamburan keluar balkon. Saat itu saya mengerti suara keras yang membuat saya begitu ketakutan adalah suara maling melompati pagar dan menginjak penutup sanyo di luar pagar kosan kami.  Semoga Allah mengampuni saya karena tidak buru-buru keluar membantu tetangga saya berteriak maling malah sibuk mencari jilbab saya, maafkan atas kedzoliman saya ya Allah, aamiin.

Sejak kejadian itu saya sangat berhati-hati menyimpan barang-barang berharga yang saya punya, saya letakkan di tempat yang tidak dengan mudah di jangkau oleh orang yang mencarinya. Maklum biasanya saya sembrono meletakan barang-barang yang saya punya, laptop, jam tangan dan yang lain nya saya geletakan begitu saja di lantai ketika hendak tidur. Sekarang saya lebih berhati-hati, jika hendak tidur saya rapihkan barang-barang tersebut dan saya letakan di tempat yang ada kuncinya dan untuk kartu ATM saya keluarkan dari dompet dan saya satukan penyimpanan nya.

Ada satu hari saya akan membayar kosan, saya pergi ke ATM untuk mengambil uang tapi kartu ATM saya sama sekali tidak bisa masuk ke mesin, saya pikir kartu saya rusak lalu keesokan harinya saya telp ke bank dan informasi dari customer service account saya masih aktif, beliau menyarankan saya agar pergi ke bank untuk mengganti kartu ATM. Saran tersebut saya lakukan, setelah saya mengantinya saya mengambil beberapa jumlah uang ternyata bisa dan saya lega berarti saya tidak perlu khawatir lagi tidak bisa mengambil uang.

Saya menyimpan nya kembali seperti biasa di satukan dengan kartu ATM yang lainnya. Selang tiga minggu saat saya akan mengambil gaji dari kartu ATM yang lain ternyata si kartu ATM yang lain ini tidak bisa di gunakan juga, wahh ada yang gak beres, saya berfikir begitu saat itu. Tiga minggu yang lalu kartu ATM BCA saya tidak dapat digunakan, jangan-jangan sebenarnya kartu ATM UOB saya pun tidak dapat digunakan dari sejak kartu BCA rusak hanya karena saya baru menggunakan nya tiga minggu kemudian baru ketahuan kalo kartu UOB juga tidak dapat digunakan. Lalu saya coba memasukan kartu BCA yang sudah saya ganti dengan kartu yang baru ternyata kertu BCA saya pun rusak lagi. Kemudian saya mencari tau ke internet dan tanya-tanya ke teman-teman, ternya kartu ATM tidak boleh di letakan berdempetan tanpa sekat, kartu-kartu itu mengandung magnet jika di tempelkan untuk waktu yang lama, lama kelamaan magnet yang terkandung di kartu ATM tersebut akan mengikis dan mesin ATM tidak bisa menariknya.
Nah buat temen-temen jangan sampe deh melakukan apa yang sudah saya perbuat, jika sudah membaca artikel ini harap berhati-hati dalam penyimpanan kartu ATM yang kita punya, jangan sampai terkena magnet atau benda-benda yang mengandung logam. Yahh aman nya di letakan di dompet, toh di dompet sudah ada sekat-sekat untuk pemisah kartu ATM. Jangan seperti saya, karena takut maling akan mengincar dompet saya makanya saya keluarkan dari dompet dan menyimpannya bersamaan tanpa sekat.


Semoga bermanfaat untuk pembaca dan maaf banyak iklan tentang si abang malingnya, euummh udah su’ujon aja si maling nya itu abang-abang tapi ya iyalah kalo menurut logika pasti abang-abang gak mungkin banget mbak-mbak, ibu-ibu atau kakek-kakek. Kalo bapak-bapak gak mungkin juga sih, kan bapak-bapak kondisi tubuh nya udah gak selincah si abang-abang apalagi manjat pager yang tingginy ngelebihi tinggi nya pemaen basket, heeeee.

Be Smart ala Sherlock Holmes



Sherlock Holmes, ciptaan Sir Arthur Conan Doyle yang begitu hidup dikepala saya bahkan dikepala banyak orang, sosok yang tidak banyak bicara dan tidak mudah jatuh cinta. Holmes memiliki kepribadian serta penampilan yang pasti akan menarik minat siapapun. Ia bertubuh jangkung, tinggi nya lebih dari 180 sentimeter dan begitu kurus hingga tampak lebih jangkung. Mata nya tajam menusuk, kecuali ketika sedang melamun. Hidung nya runcing bagai paruh rajawali menyebabkan seluruh expresinya terkesan wapada dan mantap. Dagunya kokoh dan berbentuk segi empat, menandakan ia orang yang bertekat kuat. Benedict Cumberbatch sosok masa kini yang pas banget meranin Sherlock Holmes, menurut saya.
Dia mendalami anatomi dan sangat ahli di bidang kimia. Dia tidak pernah mengikuti pendidikan medis secara sistematik. Cara belajarnya aneh dan tak berketentuan, namun dia berhasil mengumpulkan banyak pengetahuan yang akan membuat para profesor terpana.
Holmes bukan mahasiswa kedokteran, ada hal-hal tertentu yang dengan tekun dipelajarinya dan dalam batasan-batasan eksentrik pengetahuannya luar biasa banyak dan pengamatannya begitu rinci. Jelas tidak ada orang yang mau bekerja begitu keras atau memperoleh informasi setepat itu tanpa tujuan yang nyata. Orang yang membaca hanya untuk iseng pasti hanya memperoleh pengetahuan yang sekedarnya berbeda dengan holmes yang mau membebani benaknya sampai ke hal kecil. Holmes tahu informasi yang sedang berkembang tapi dia berusaha sebaik mungkin untuk melupakannya.
Holmes menjelaskan, otak manusia pada awalnya sama seperti loteng kecil yang kosong dan kau harus mengisinya denga perabot yang sesuai dengan pilihanmu. Orang bodoh mengambil semua informasi yang ditemuinya sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit di tengah-tengah atau tercampur dengan hal-hal lain. Orang bijak sebaliknya, dengan hati-hati ia memilih apa yang dimasukannya ke loteng otaknya, ia tidak akan memasukan apapun kecuali peralatan yang akan membantunya dalam melakukan pekerjaannya sebab peralatan ini saja sudah sangat banyak.
Semuanya itu diatur rapi dalam loteng-otaknya sehingga ketika diperlukan ia dapat dengan mudah menemukannya. Keliru kalau kau pikir loteng-otak kita memiliki dinding-dinding yang bisa membesar. Untuk setiap pengetahuan yang kau masukan, ada sesuatu yang sudah kau ketahui yang terpaksa kau lupakan. Oleh karena itu penting sekali untuk tidak membiarkan fakta yang tidak berguna menyingkirkan fakta yang berguna.
So, ilmu tentang tata surya misalnya apa guna nya untuk seorang detective, toh kalaupun bumi bergerak mengitari bulan tidak akan mempengaruhi pekerjaannya.

Walau Sherlock Holmes hanya ciptaan seorang penulis tapi dari kisah yang ditulis banyak sekali hal yang bisa kita ambil sebagai pembelajaran. Ambil yang sekiranya berguna.


Padat di Musim MAGABUT, Ayo bersyukur!!!


Buat kita yang kerja di kantor pasti sudah akrab dengan atmosfir di kantor, pasti ada hari-hari sibuk dan pasti ada hari-hari sepinya. Ketika seseorang ada di situasi sepi kerjaan, nahhh biasa nya kalimat MAGABUT alias makan gaji buta bakal akrab banget di kuping apalagi di mata karena kita pasti sudah paham dengan slogan “ Sehari tanpa bikin status, hampa!!!” so mau gak mau mata kita di suguhin status “MAGABUT”. 

Eittttt tapi jangan salah, beban pekerjaan setiap karyawan itu pasti beda-beda. Bahkan ada karyawan yang selama bekerja sama sekali gak pernah ngerasain yang namanya MAGABUT. Nah situasi ‘orang keren’ yang gak pernah ngerasain Magabut inilah yang bakal saya ulas. 

Iri, mengeluh dan ingin menyerah, itu yang sering terjadi ketika seseorang tetap sibuk dengan pekerjaan sedangkan ada sekelompok orang yang tidak melakukan pekerjaan apapun karena kondisi order perusahaan sedang sepi. Hal itu lumrah dan manusiawi tapi umat dewasa selalu punya cara agar tidak dikuasai oleh hal negative seperti mengeluh yang mengakibatkan tidak bersyukur.

Beberapa hal yang bisa memotifasi diri saat padat di musim magabut ;

1.      Pekerjaan ku = Ibadah ku
Sebagai seseorang yang mempunyai Tuhan kita harus selalu ingat bahwa pekerjaan yang kita lakukan adalah untuk beribadah, “semakin padat pekerjaan kita semakin banyak pahala yang bisa kita dapat jika kita sabar” yakin kan saja kalimat itu di hati walau urusan pahala cuma Allah yang  tahu. 

2.      Bersyukur karena kita masih punya pekerjaan
Ingat ulang saat dulu pertama kali kita mencari pekerjaan, coba rasakan ulang perasaan itu. Bersyukur sekarang kita sudah menjadi seorang karyawan sedangkan diluar sana masih banyak orang yang sibuk mencari pekerjaan. Bersyukur akan memberikan getaran positif sehingga kita dapat mengerjakan pekerjaan dengan nyaman

3.      Ingat keluarga
Keluarga tempat pertama kita untuk berbagi, mempunya pekerjaan membuat kita mempunyai penghasilan untuk berbagi dengan keluarga, jika kita menyerah terhadap pekerjaan kita itu berarti kita menghilangkan satu kesempatan untuk berbagi penghasilan.

Saya rasa tiga hal di atas cukup untuk membuat kita bersemangat dan tidak mengeluh di situasi padat di musim magabut, tapi ketiga cara di atas sebenarnya bisa dikalahkan hanya dengan satu cara, ya satu cara “ Segalanya untuk Allah” dan bagi saya ini adalah cara terdasyat yang tidak bisa dikalahkan oleh apapun, ketika kita melakukan segalanya untuk Allah maka tidak akan ada yang bisa membuat kita untuk mengeluh dan menyerah.