Saya Hanya Seorang Introver


“Sebuah kejutan yang sangat indah untuk akhirnya menyadari betapa menyenangkannya kesendirian itu.” ( Ellen Burstyn )

Saya sombong. Sering saya bertanya pada diri sendiri, apakah benar tuduhan segelintir orang itu? Hanya karena saya jarang besosialisasi dengan teman-teman dilingkungan tempat saya tinggal, hanya karena saya lebih sering menutup pintu kamar ketika sepulang dari bekerja.
Saya senang tersenyum pada banyak orang, tapi saya bingung sendiri jika harus banyak bicara. Setiap kali saya dihadapkan pada situasi saya harus berkumpul dengan teman-teman, saya merasa harus berubah menjadi orang lain yang banyak bicara dan itu sangat menggangu. Pikiran saya benar-benar tidak bersama mereka walau keadaan fisik saya tertawa bersama mereka. Saya selalu membayangkan kamar saya, baju saya yang longgar, coklat panas, buku. Andai saat ini saya bisa berada dikamar saya, alangkah menyenangkannya melahap setiap isi lembaran buku dan  mengkhatamkan buku-buku yang saya beli atau saya pinjam.

Saya senang bertemu dengan banyak orang-orang baru, orang-orang yang bisa saya temui disebuah perjalanan, orang-orang  yang hanya saya temui sesekali saja. Mengobrol dengan mereka, seperti dengan pedagang kaki lima, nenek-nenek yang menjual pop mie dijalan, tukang angkut barang, saya merasa nyaman. Ada informasi-informasi baru yang saya dapat, cerita pengalaman hidup mereka yang membuat saya selalu bersyukur dengan hidup dan takdir yang yang saya dapat.

Tidak munafik, saya katakana saya tidak nyaman jika harus ngobrol dengan teman-teman yang hampir setiap hari saya temui atau saya lihat dikantor maupun di lingkungan tempat tinggal. Entahlah, topik apalagi yang harus saya angkat dalam obrolan dengan mereka. Saya merasa bersemangat setiap kali berada pada pembicaraan yang mengangkat isu pemerintahan, tapi siapa yang suka dengan topik-topik itu? Sinetron, acara-acara reality show adalah tontonan dan pembahasan yang saya tidak tau sama sekali karena saya tidak pernah mengijinkan diri saya untuk menikmati penderitaan orang lain seperti yang disuguhkan dalam sinetron. Tapi pada kenyataannya, itu adalah topik yang sering dibicarakan. Saya hanya bisa diam dan menjadi pendengar tapi lebih sering saya seperti orang yang tidak peduli dan keluar dari obrolan dan itu menyiksa karena saya seperti orang sombong yang tidak ingin ikut dalam pembicaraan. Saya senang melihat acara komedi. Tapi tertawa buat saya, ya sudah tertawa saja, nikmati setiap banyolan yang disuguhkan tanpa perlu saya ceritakan lagi banyolan-banyolan tersebut kepada orang lain. Begitupun dengan kesedihan dan kebahagiaan, saya lebih senang menyimpannya dan tidak mengumumkannya kepada banyak orang.

Kadang saya berfikir, apa ada yang salah dengan hidup saya dan diri saya. Kenapa saya tidak bisa seperti mereka yang begitu welcome dengan orang lain, bisa membicarakan apa saja dan tertawa lepas. Sedangkan saya, lebih senang berada di kamar dan mematikan lampu teras agar tidak ada yang berkunjung ke kamar. Saya sempat mencari tahu, apakah perilaku saya termasuk penyakit kejiwaan. Seiring berjalannya waktu dan informasi-informasi yang saya dapat dari berbagai buku, ternyata sifat seperti ini wajar, dan banyak orang menyebutnya innies atau introver.

Marti Olsen Laney mengatakan dalam bukunya, Introversi dan eksroversi masing-masing adalah kutub dari rangkaian sebuah energi. Posisi kita pada kutub-kutub itulah yang memprediksi cara kita memperoleh energi kehidupan.  Orang yang berada pada kutub introver akan berkonsentrasi ke dalam dirinya untuk memperoleh energi. Sedangkan, orang yang berada pada kutub ekstrover akan berkonsentrasi keluar dirinya untuk memperoleh energi. Kebanyakan ekstrover sangat senang berbicara, melakukan aktivitas, dan bekerja sama dengan orang lain. Mereka belum tentu lebih ramah dan periang dari kaum introvert. Intinya, focus mereka terletak diluar diri mereka sendiri. Kaum ekstover mungkin akan kesepian dan kehabisan tenaga jika mereka tidak dapat behubungan dengan orang lain atau dunia luar. Mereka adalah orang-orang yang di akhir pesta akan berkata dengan semangat “Habis ini kita mau ngapain lagi?”. Sebaliknya kaum introvert mengisi ulang tenaga dari dunianya sendiri. Dunia yang berisi ide, emosi, dan kesan yang mereka terima.Kaum introvert belum tentu pendiam dan pemalu, namun fokus mereka terletak didalam pikirannya sendiri. Mereka perlu tempat yang  sunyi dan tenang agar dapat merenung dan mengisi ulang energy nya. Dan biasanya, kaum introvert akan mengatakan hal semacam ini “ Hmmmm, aku senang bisa bertemu lagi dengan Bill, tapi syukurlah, aku lega karena pestanya sudah berakhir!”

Dari konsep ini, saya mulai dapat memahami keperluan diri saya untuk berdiam diri, sendirian, dan mengisi ulang tenaga saya. Dengan begitu saya dapat mengurangi rasa bersalah saat saya ingin menghindar dari teman-teman saya. Akhirnya saya mengerti bahwa tidak ada yang salah dengan diri saya, saya hanyalah seorang introver.

Dan saya tidak heran mengapa saya selalu merasa sendirian dalam menghadapi dunia ini. Tiga banding satu, itu adalah rasio ekstover dan introver. Dari ratio itu saya menyadari bahwa saya hidup dalam sebuah dunia yang sengaja disusun untuk para "outies" (sebutan untuk orang ekstrover) dan saya hidup dalam dunia mereka yaitu kaum ekstrover.


“Saya nyaman menjadi diri sendiri walau hidup dalam lautan ekstrover”.



No Dream is Expired


Secangkir coklat panas yang masih mengepul, belum bisa saya nikmati karena masih terlalu panas jika saya paksakan bersentuhan dengan bibir.  Saya mulai melamun, tatapan saya nanar pada meja kerja yang penuh dengan dokumen-dokument yang belum rampung saya selesaikan. Saya kembali melihat layar monitor, tatapan saya kosong. Ingatan saya kembali pada mimpi saat mengenakan seragam putih abu-abu, bahwa keinginan terbesar saya saat lulus kuliah nanti adalah bekerja di perpustakaan milik Negara.  Bahwa di tempat itu, sebuah perpustakaan yang besar, saya akan banyak tahu buku apa saja yang masuk dan dimiliki Negara ini dan tentunya yang terpenting adalah saya akan berkesempatan memiliki takdir untuk membaca buku-buku tersebut. Mimpi saya, saya ingin banyak membaca dan banyak menulis dari apa yang saya baca dan saya lihat, itu saja.

Tapi takdir bekata lain, mimpi itu semakin samar ketika kebutuhan hidup menuntut untuk segera dipenuhi. Waktu yang saya punya kemarin dan dulu, sudah saya habiskan untuk membantu mengejar mimpi orang lain. Lalu saat ini, ketika saya asyik menerima bayaran atas mimipi-mimpi mereka yang berusaha saya wujudkan  tiba-tiba saya merindukan mimpi saya sendiri.

Ditempat orang lain ini, didunia yang bukan tempat saya bermimpi, entah sudah berapa judul buku yang saya lewatkan, saya benar-benar tidak tahu buku apa saja yang sudah singgah di Negara tercinta ini, siapa saja nama penulis yang sudah berhasil menempatkan buku-bukunya berjajar di rak. Yang mestinya saat mimpi itu terwujud, saya adalah orang yang lebih tahu.

Mimpi ini gratis dan kepala ini tidak pernah memungut uang sewa untuk tetap singgah dalam ingatan. Mimpi ini, yang baru saja saya rindukan kembali, belum bisa memaksa saya keluar dari zona nyaman, keluar dari zona betapa asyiknya menerima bayaran untuk mewujudkan mimpi orang lain. Tapi mimpi ini, sudah cukup untuk memberi semangat bahwa mimpi haruslah tetap dikejar because “no dream is expired”. Tak penting lagi dimana saya bekerja, yang terpenting adalah bagaiman saya berusaha mendapatkan takdir membaca buku-buku impian saya dengan banyak usaha. Karena untuk mewujudkan mimpi, Tuhan perlu tahu seberapa besar usaha kita untuk mewujudkannya.


Secangkir coklat panas sudah berubah menjadi secangkir coklat hangat. Kenikmatan tegukan yang menenangkan pikiran dengan semangat baru yang saya dapatkan dari lamunan tentang mimpi. Segera akan saya kejar mimpi ini, meski butuh waktu, usaha dan kesabaran untuk mewujudkannya. Seperti secangkir coklat panas yang tak bisa lansung saya minum, pada saat nya nanti dia akan menjadi secangkir coklat hangat yang akan menyuguhkan kenikmatan saat diteguk. 

Soe Hok-Gie Sekali Lagi


Ketidak-adilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani bersuara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamnya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan itu sendiri , karena betapa kuatpun kekuasaan, seseorang  tetap masih  memiliki kemerdekaan untuk berkata  YA atau TIDAK, meskipun cuma didalam hatinya. “Gie kamu tidak sendirian”.( Arif Budiman, kakak almarhum Gie )

Ada sebuah buku bagus yang terbit di tahun 2009, buku tentang Soe Hok-Gie yang  yang 40-an tahun lalu meninggal di puncak gunung tertinggi di pulau jawa. Untuk Mengenang 40 tahun meninggal nya Soe Hok-Gie maka sahabat-sahabatnya menulis kenangan-kenangan mereka dan di rangkum dalam sebuah buku “Soe Hok Gie Sekali lagi” 

Pertama kali saya tahu nama Soe Hok-Gie dari sebuah film yang diperankan Nicholas Saputra. Dari film itu saya jatuh cinta dengan sosok Soe Hok-Gie dan segera menjadikan nya role model dalam hidup saya. Saya yang tidak pintar terpecut semangatnya saat ada di adegan Gie remaja yang protes pada mama nya saat disarankan untuk mengulang pendidikannya, Gie yang tidak merasa bodoh berucap “saya bisa, saya pintar, saya banyak membaca, carikan saya sekolah lain dan akan saya buktikan”. Kalimat “Saya pintar, saya banyak membaca” begitu melekat dikepala saya. Saat itu dibenak saya, jika saya banyak membaca seperti Soe Hok-Gie, mungkin saya akan tertolong dari kebodohan.

Dari buku ini kita akan banyak tau tentang Soe Hok-Gie, bagaiman kehidupannya, pergaulannya, pandangannya tentang bangsa ini, bahkan sampai tragedy memilukan saat ia menemui ajalnya sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Semua digambarkan dengan begitu jelas.

Tentang Soe Hok-Gie yang sudah berhasil membuat banyak orang terkagum-kagum. Gie pernah mengkritik seorang guru, karena kritikan tersebut akhirnya nilai Gie dikurangi. Dia mendapatkan nilai 8 tapi lalu di kurangi 3. Guru yang tidak tahan oleh kritikan bagi Gie hanya layak masuk keranjang sampah. Diceritakan oleh Luki Sutrisno Bekti, di usia Gie yang belum genap 17 tahun, tergerak hatinya saat melihat seorang pria dewasa yang bukan pengemis terpaksa makan kulit mangga karena kelaparan. Ia memberikan uang yang ada padanya saat itu Rp 2.50. Begitu besar kesadaran sosialnya diusia semuda itu.

Dalam catatan hariannya dituliskan betapa ia marah pada Presiden Soekarno yang dianggapnya tidak peduli pada nasib rakyat yang kelaparan. Soekarno dianggapnya hanya tahu bersenang-senang dengan istri-istrinya. Soekarno dan generasinya dinilai telah mengkhianati perjuangan mereka. Benar mereka telah berjuang demi kemerdekaan, tetapi setelah merdeka mereka hanya memikirkan kesenangan mereka sendiri. Pada usia semuda itu, Gie sudah merasa harus berjuang demi bangsa yang rakyatnya telah menjadi begitu miskin sehingga tidak lagi bisa makan. Dengan bertambahnya usia, Gie makin yakin bahwa ia tidak bisa diam saja, ia harus berbuat sesuatu untuk melawan ketidakadilan  yang sudah dialami rakyat Indonesia.


Setelah lulus dari SMA Kanisius, Gie kuliah di universitas Indonesia di fakultas Sastra. Selama kurun waktu sebagai mahasiswa ia menjadi pembangkang aktif memprotes Presiden Soekarno dan PKI. Melalui tulisan-tulisan nya yang dimuat di beberapa surat kabar, nama Soe Hok-Gie dikenal oleh banyak orang, tulisannya dibaca dari kalangan AURI bahkan sampai penjual peti mati di Malang. Hok-Gie adalah seorang mantan ketua Mapala FS-UI, yang juga terkenal sebagai penulis, aktifis dan tokoh pergerakan mahasiswa di jaman Orde Baru. Setelah lulus dan menjadi sarjana, ia mengabdikan dirinya menjadi seorang dosen di Universitas Indonesia dan menjadi seorang sejarawan muda. Ia menyarankan pada mahasiswanya untuk memanggil nya Soe atau Gie dan bukan bapak. Gie ingin menjadi seorang dosen sekaligus teman untuk mahasiswa nya. 

Hok Gie suka membaca, mendengarkan lagu-lagu rakyat atau folk songs, negro spiritual songs, dan judul lagu Donna Donna yang dinyanyikan oleh Joan Baez adalah salah satu lagu favoritnya. Gie senang bergaul dengan rekan pers senior seperti Aristides Katoppo, Goenawan Mohamad, Fikri Djufri, Satyagraha Hoerip. Gie juga gila nonton terutama film asing, seperti film prancis, Cekoslovakia, Rusia, Jerman yang tidak bayar, dan Hok-Gie senang naik gunung. Bagi teman-temannya Hok-Gie adalah seseorang yang perhatian dan mau mendengarkan setiap cerita maupun keluhan, seseorang yang bisa dimintai pendapat tentang jalan keluar yang akan diambil setiap ada masalah, setidaknya jika tidak mendapatkan jalan keluar, Gie bisa menjadi penghibur. Bagi teman-temannya Gie adalah orang yang mampu melakukan banyak hal dalam satu waktu.

Banyak orang menjadi moralis sampai batas tertentu. Tapi Hok-Gie, terus tanpa batas. Hok-Gie adalah seorang moralis penganut etika absolut, walaupun dia mengetahui dia akan dibunuh, dia tidak akan membunuh orang itu walau punya kesempatan. Berbeda dengan orang yang moralis penganut etika tanggung jawab, orang penganut etika tanggung jawab tidak akan segan membunuh bila dia mempunyai kesempatan lebih dulu-ketika dia mengetahui akan dibunuh orang tersebut. Dimata sahabat nya Tides,  Hok-Gie berbeda dari mahasiswa lainnya, Hok-Gie punya konsep, punya wawasan dan pemikiran yang menarik, bacaannya banyak dan dalam berdiakusi dia selalu memasukan bahan bacaannya yang banyak lewat kerangka teoritis, itu yang menarik.

Dalam kenanganArief Budiman, kakak Gie. Dia tahu dimana Gie menulis karangan-karangannya. Di rumah di jalan Kebon Jeruk, di kamar belakang ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram, karena voltase yang selalu turun di malam hari. Disana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, seringkali terdengar suara mesin tik dari kamar belakang Soe Hok-Gie, di kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangannya.

Selama beberapa minggu sebelum keberangkatannya ke Semeru, Gie suka berkata-kata aneh. Beberapa kali dia mengisahkan kegundahan nya tentang seorang kawan yang mati muda gara-gara ledakan petasan. Ternyata dalam buku harian nya di Catatan Seorang Demonstran'  Hok-Gie menulis "  ...saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol pamit sebelum ke Semeru ..."
Soe yang banyak membaca dan selalu di ejek dengan julukan 'Cina kecil' memanfaatkan kebeningan ingatannya untuk menyitir kata-kata 'sakti' filsuf asing. Antara lain tanggal 22 Januari 1962, ia menulis " seorang filsuf Yunani pernah menulis ... nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.


Kematian Gie dan Idhan seperti sudah meninggalkan tanda-tanda. Seperti Idhan yang selalu mengigau menyebut-nyebut 'Semeru' saat tidur dan puisi yang dibuatnya sebelum kepergian ke Semeru berjudul "Djika Berpisa" yang ia tulis untuk Herman O Lantang di tanggal 8 Desember 1969 dan disimpan nya di laci. Sedangkan Gie, selain selalu teringat akan kematian, saat sehari sebelum ulang tahunnya di gunung Semeru ia sempat menitipkan batu dan daun cemara untuk perempuan-perempuannya di Jakarta.

Sebelum berangkat ke Semeru, Hok-Gie menyempatkan diri mengirimi anggota DPR paket lipstik dan bedak agar mereka tampak cantik di depan pemerintah. Hok-Gie kecewa pada teman-temannya seperjuangan yang di anggapnya telah melupakan perjuangan nya membela rakyat karena lebih asyik mematut diri agar terus di pakai di DPR. Bahkan teman baik nya Rahman pun, tidak terlewat untuk menerima paket tersebut. Itulah Gie, seseorang yang mempunyai pemikiran bebas, yang tidak takut untuk mengkritik siapapun yang dianggapnya telah merugikan rakyat.

Hingga tiba pada peristiwa memilukan, kecelakaan yang Gie alami di gunung Semeru membuat banyak orang merasa kehilangan. Hari itu Jumat, lebaran ke-2 di tanggal 12 Desember 1969. Mereka 8 orang, Aristides Katoppo, Herman Onesimus Lantang, Maman Abdurachman, Wiwiek Anton Wijana, Freddy Lodewijk Lasut, Rudy Badil, Soe Hok-Gie dan Idhan Dhanvantari Lubis, mereka berangkat dari stasiun Gambir Jakarta Pusat untuk melakukan pendakian ke puncak Mahameru di gunung Semeru yang rencananya akan kembali ke Jakarta tanggal 19 atau 20 Desember 1969. Hok-Gie di malam "terakhirnya" tanggal 15 Desember 1969 di Ranu Kumbolo sempat menuturkan cita-citanya mau berulang tahun di puncak Mahameru, pada hari Rabu 17 Desember 1969. Tapi manusia hanya bisa berencana, Hok-Gie dan Idhan kompak menutup usia di lereng dekat puncak Mahameru. Akhirnya tubuh Gok-Gie tetap di puncak Mahameru di hari ulang tahunnya, meski itu adalah hari keduanya sebagai almarhum. Soe Hok-Gie berdampingan dengan Idhan selama seminggu di puncak tertinggi tanah Jawa. Jasat mereka akhirnya dibawa pulang ke Jakarta pada tanggal 24 Desember 1969 dengan menggunakan pesawat Antonov TNI-AU. Rencana seminggu melakukan pendakian ternyata molor menjadi 13 hari yang melelahkan, menegangkan, menyebalkan dan menakutkan. Kisah kepiluan ini di ceritakan dengan jelas oleh Rudy Badil di bagian pertama 'Antar Hok-Gie dan Idhan ke atas'

Gie dan Idhan di makamkan di Menteng Pulo, tetapi tak lama kemudian karena keluarga Gie direpotkan pemerasan kecil-kecilan di Menteng Pulo, Arief Budiman memindahkan jenazah Gie dibekas makam kolonial di Tanah Abang yang lebih dekat dengan rumah orang tuanya. Disini makam Gie di tandai dengam nisan putih sederhana yang di tulis kutipan dari ungkapan spiritual rakyat yang menjadi favoritnya "nobody knows the trouble I see, nobody knows my sorrow".

Pada tahun 1975, ketika pemerintah Jakarta mengumumkan bahwa makam lama di Tanah Abang akan di bongkar untuk keperluan pembangunan, keluarga Gie merencanakan tulang belulang Gie di kremasi dan abunya disebarkan oleh teman-teman nya pada peringatan hari ulang tahun Gie disalah satu tempat favoritnya jika ia mencari ketenangan dan menyendiri, yaitu lembah Mamdalawangi, dekat gunung Pangrango sekitar 90 km sebelah selatan Jakarta.


Mandalawangi yang di kagumi Soe Hok Gie adalah sebuah lembah yang landai. Alasnya berumput lembut. Diatas alas rumput itu tumbuh beribu-ribu pohon bunga Edelweis yang tingginya rata-rata satu meter. Pada pertengahan Desember itu, Edelweis tidak berbunga, tapi konon pada bulan Mei atau Juni lembah landai itu menjadi lebih indah karena bunga Edelweis dan lainnya. Sedangkan daun Edelweis yang runcing keputih-putihan itupun dari kejauhan sudah merupakan keindahan yang tersendiri.
Di kaki lembah, ada sumber air jernih yang mengalir. Dan jauh di sekeliling lembah, terdapat pohon-pohon besar yang membatasi jurang.
Di tempat itu, kemudiam abu Soe Hok Gie ditaburkan. Pada saat abu yang dibungkus kantong plastik dan anyaman tikar di buka, ke-35 orang di mandalawangi itu pada memelentangkan telapak tangan mereka di muka dada. Satu-satu, telapak tangan itu diisi dengan abu tulang Gie yang putih kecoklat-coklatan dan abu-abu. Setelah atas nya ditaburi bunga, abu di taburkan keseluruh penjuru lembah ke arah yang mereka suka. Ada yang ke tepi jurang, ada yang ke semak-semak edelweis, kedekat sumber air di ujung lembah ataupun rumput-rumputan. Abu Gie ditaburkan tanpa bekas.


Berikut adalah daftar isi buku setebal sekitar 556 halaman,sudah plus covernya, Soe Hok-Gie Sekali lagi :
BAGIAN 1
Antar Hok-Gie dan Idhan ke Atas
Oleh Rudy Badil
BAGIAN 2
Kisah Soe dan Semeru
Oleh Rudy Badil

Berdua Ke Menteng Pulo ( oleh John Maxwell )
Hok-Gie dan Pangrango untuk Hilang ( oleh Jimmy S Harianto )
"Konsultan" Harta Karun Watanabe ( oleh Rudy Badil )
Arca Kembar Itu Ternyata Ada ( oleh Herman O Lantang )
Serba Serbi Semeru Serba Seru ( oleh Cut Dwi Septiasari )
Puisi Perpisahan Menjelang Maut  Mahameru
Istirahatlah Idhan dan Freddy ( oleh Rudy Badil )

BAGIAN 3
Saksi-saksi Rawamangun-Salemba ( Oleh Rudy Badil )
Surat Terbuka Ker Buat Gie ( oleh Kartini Sjahrir )
Hok-Gie, Praktek Dokter "Curhat" ( oleh Luki Sutrisno Bekti )
"Penolak" Organisasi Extra di Rawamangun ( oleh Luki Sutrisno Bekti )
Antara Moralis Absolute dan Humanis Universal ( oleh Luki Sutrisno Bekti )
Kerja " Blitzkrieg" angkatan 69 FS-UI
Puisi, Lirik dan Soe ( oleh Grace Josephine Tiwon )
Kenangan Seorang Rekan " TRIUMVIRATE" ( oleh Dahana )
Ikut Mengangkay Citra Radio UI ( oleh Purnama Kusumaningrat )
"Look Soe, What We Have Done ... " ( oleh Rudy Hutapea )

BAGIAN 4
Tulisan Dari "The Angry Young Man"
Oleh Rudy Badil
GIE-Buku, Pesta, Cinta dan Sinema ( oleh Riri Riza )
Catatan Seorang Aktor ( oleh Nicholas Saputra )
Indahnya Keberanian dan Kejujuran ( oleh Mira Lesmana )
Andai Gie Ada (oleh N Riantiarno )
Gie Lewat GIE Mengenang Rasa Malu ( oleh Hilmar Farid )
Gie, Mahasiswa dan Amanat Penderitaan Rakyat ( oleh Ikrar Nusa Bhakti )
Catatan Aktivia 1980-an untuk Demonstran 1966 ( oleh Aris Santoso )
Membaca Pikiran HAM Soe Hok-Gie ( oleh Stanley Adi Prasetyo )
Teman Yang Kita Belum Pernah Bertemu ( oleh Iwan Bungsu )
Bagai "Shane" Yang Datang Dan Pergi ( oleh Susanto Pudjomartono )
Perkenalan Intelektual Dengan Soe Hok-Gie ( oleh Mona Lohanda )
Soe Hok-Gie : Promise Unrealized? ( oleh  Mery Somers Heidhues )
Menyongsong "Hari Kebangkitan Mahasiswa"  10 Januari Sekali Lagi Soe Hok Gie ( oleh Jopie Lasut )
In Memoriam : Soe Hok-Gie ( oleh Ben Anderson )

BAGIAN 5
karangan Dari Kamar Suram Bernyamuk
Oleh Rudy Badil

Bersama Mahasiswa UI Mengikuti Kembali Jalan Yang Sudah Hilang Di Pangrango
( oleh Soe Hok-Gie )
Menaklukan Gunung Slamet ( oleh Soe Hok-Gie )
Pelacuran Intelektual ( oleh Soe Hok-Gie )
Awal dan Akhir  ( oleh Soe Hok-Gie )
Di Sekitar Mahasiswa-Mahasiswa Demonstrasi Di Jakarta  ( oleh Soe Hok-Gie )
Siapakah Saya ( oleh Soe Hok-Gie )
Generasi yang Lahir Setelah Tahun Empat Lima ( oleh Soe Hok-Gie )
Putra-Putra Kemerdekaan : Generasi Sesudah Perang Kemerdekaan
( oleh Soe Hok-Gie )
Betapa Tidak Menariknya Pemerintah Sekarang ( oleh Soe Hok-Gie )
Kenang-Kenangan Bekas Mahasiswa : Dosen-Dosen juga Perlu di Kontrol
( oleh Soe Hok-Gie )
Saya Buka  Wakil KAMI ( oleh Soe Hok-Gie )
Seorang Dosen, Seorang Pengacara dan Seorang Mahasiswa ( oleh Soe Hok-Gie )
Agama Dalam Tantangan ( oleh Soe Hok-Gie )
Orang-Orang Indonesia di Amerika Serikat  ( oleh Soe Hok-Gie )
Sebuah Generasi Yang Kecewa ( oleh Soe Hok-Gie )
"Kekuatan Hitam" dan "Bahaya Kuning" ( oleh Soe Hok-Gie )
Hippies, Peace and Love ( Oleh Soe Hok Gie )


Tidak Ada New York Hari Ini


Awalnya saat melihat covernya di halaman situs gramedia dot com saya pikir buku ini adalah novel sehingga saya tertarik untuk ngklik melihat resensinya. Ternyata saat membaca keterangan nya, buku ini adalah puisi dan foto Rangga untuk film Ada Apa Dengan Cinta?

Ini adalah buku yang diterbitkan oleh penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama anggota IKAPI, 2016. Buku dengan tebal  120 halaman dan panjang buku sekitar 20 cm dengan harga Rp 52.000 ini merupakan buku hasil kolaborasi puisi  M Aan Mansyur dan foto Mo Riza. Buku ini menampilkan keindahan puisi sekaligus karya fotografi yang futuristic. Foto-foto hitam putih berlatar Amerika dengan puisi sepatah-patah kata yang menggambarkan kuatnya karakter Rangga sebagai sosok pria yang ”kaku dan dingin”.
Jika di film pertama Ada Apa Dengan Cinta  pada tahun 2002 membuat buku Aku karya Kahlil Gibran terkenal. Selang 14 tahun kemudian di film Ada Apa Dengan Cinta  2 giliran  buku Tidak Ada New York Hari Ini yang terkenal.

Salah satu puisinya:
Tidak Ada New York Hari ini
Tidak ada New York hari ini.
Tidak ada New York kemarin.
Aku sendiri dan tidak berada disini.
Semua orang adalah orang lain.

Bahasa ibu adalah kamar tidurku.
Kupeluk tubuh sendiri.
Dan cinta-kau tak ingin aku mematikan mata lampu.
Jendela terbuka dan masa lampau memasukiku sebagai angin.
Meriang. Meriang. Aku meriang.
Kau yang panas di kening. Kau yang dingin di kenang.

Hari ini tidak pernah ada. Kemarin tidak nyata.
Aku sendiri dan tidak menulis puisi ini.
Semua kata tubuh mati semata.

Puisi adalah museum yang lengang.
Masa remaja dan negeri jauh.
Jatuh dan patah.
Foto-foto hitam putih.
Aroma kemeja ayah dan senyum perempuan
yang tidak membiarkanku merindukan senyum lain.
Tidak ada pengunjung. Tidak ada pengunjung.
Di balik jendela, langit sedang mendung.

Tidak ada puisi hari ini.
Tidak ada puisi kemarin.
Aku menghapus seluruh kata
sebelum sempat menuliskannya.


Dari puisi diatas, kebayang banget sosok Rangga-nya dan cerita kehidupan Rangga yang besar dengan seorang ayah dan terpisah dengan seorang wanita yang ia cintai.
Ini adalah buku yang layak untuk diapresiasi, buku yang sangat bagus dan sangat layak menghiasi rak buku kita. Bahasa puisi yang cocok untuk anak muda. Kata-kata yang menggambarkan kedewasaan seorang pria. Hati klepek-klepek rasanya dengan puisi yang ada di buku ini.









Critical Eleven


Penulis           : Ika Natassa
Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku     : 344 halaman
Panjang buku :  20 cm

Sebenarnya ini adalah judul buku yang sudah lama saya baca, walau seperti informasi yang basi, saya coba tulis informasi mengenai buku ini untuk menambah koleksi tulisan dalam blog saya karena saya yakin gak semua orang sudah membaca buku ini.

Pemeran utama dalam cerita ini adalah seorang wanita karir yang memiliki pekerjaan sebagai  management consultant di Jakarta yang tugas nya wari wiri keluar masuk negara orang. Her name is Tanya Baskoro. Buku ini menceritakan kehidupan rumah tangga nya bersama Aldebaran Risjad atau yang akrab di panggil Ale, seorang pria yang mempunyai pekerjaan sebagai petroleum engineer yang memiliki waktu 5/5 yaitu 5 minggu bekerja di rig di Teluk Meksiko dan 5 minggu libur yang dalam novel ini minggu-minggu liburnya dihabiskan bersama Anya.

Novel ini diceritakan dalam sudut pandang Anya dan Ale yang membuat para pembaca memahami setiap kejadian dari sudut pandang Anya dan Ale yang membuat pembaca akan merasa senang, sedih, gemes, iyaa gemes “lu kok keras amat sih Nya! Ale itu baik! suami kayak Ale itu langka! Cuma gara-gara kesalahan yang dia gak sengaja dan gak dia sadari yang mungkin dia anggap itu bukan suatu hal yang bakal bikin lo terpukul trus lo diemin Ale sampe segitunya. Ya kurang lebih begitulah pemikiran negative yang muncul pas baca novel ini.

Pertemuan pertama nya dengan Ale terjadi di pesawat, penerbangan dari Sidney ke Jakarta. Tanya yang tanpa sengaja selama tiga jam tertidur di bahu Ale, yang kemudian bangun dan salah tingkah menyadari apa yang terjadi kemudian berlanjut menjadi perkenalan dan percakapan. Meraka saling tertarik, namun pertemuan baru kembali terjadi setelah sebulan perkenalan mereka dipesawat setelah Ale akhirnya berhasil mengumpulkan keberanian untuk menghubungi Anya. Setelah beberapa kali bertemu mereka akhirnya jadian dan setelah setahun berpacaran mereka memutuskan untuk menikah. Dan romantisnya, Ale melamar Anya didalam mobil dan di saksikan pak Supir saat Anya mengantar Ale menuju ke bandara.


Tidak sulit untuk jatuh cinta kepada seorang Aldebaran Risjad. Dimata Tanya, Ale memiliki satu kualitas yang jarang di temui pada laki-laki lain. Dia bisa mengubah situasi secanggung apapun menjadi sesuatu yang seharus nya memang terjadi dan tidak perlu ditanyakan lagi mengapa. Seperti hujan yang sudah sewajarnya  membasahi tanah. Atau api yang sudah seharus nya rasanya panas. Dalam dunia nyata, saya berharap banyak pria yang mempunyai sifat seperti Aldebaran Risjad. Kalau ada, saya minta satu ya, hehehe ^_^. 

Dalam buku ini, Ale digambarkan sebagai sosok yang romantis, dewasa dan mengayomi. Seorang pria yang mampu berkorban untuk pasangannya. Hanya satu kekurangan Ale sebagai pasangan yang akhirnya menjadi inti cerita pada novel ini. Keretakan rumah tangga yang diakibatkan ketidak sengajaan nya mengutarakan kekecewaan akibat meninggalnya anak mereka saat dalam kandungan. Anya yang begitu terpukul dengan ucapan Ale yang seolah-olah menyalahkan nya, Anya yang tetap tidak memberikan maaf walau Ale berusaha sekuat kemampuan nya untuk memperbaiki kesalahan nya. Hidup dalam satu atap tapi tidak saling berkomunikasi sebagaimana layaknya pasangan suami istri, kebayangkan?  Buku ini pas banget untuk pasangan muda yang sedang membangun rumah tangga. Ada point berharga yang bisa kita ambil dalam buku ini, bahwa kominikasi, saling menguatkan, tidak saling menyalahkan dan saling memaafkan sangat di perlukan dalam sebuah hubungan. Dan point yang juga penting untuk perempuan yang belum membangun rumah tangga seperti saya adalah menemukan another Aldebarab Risjad. Seorang pria yang begitu setia dan mengayomi wanita nya.

Dibalik filosofi pengambilan judul Critical Eleven
Dalam dunia penerbangan ada yang namanya Critical Eleven. Sebelas menit yang paling kritis di dalam pesawat, yaitu tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Dalam sebelas menit ini, pars air crew harus berkonsentrasi penuh karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umum nya terjadi dalam rentang waktu Critical Eleven ini.
Dalam hal ini,Ika Natassa menggambarkan hal tersebut sama dengan pertemuan dengan orang-orang. Tiga menit pertama saat bertemu seseorang itu kritis sifatnya dari kesan pertama. Senyum nya, gesture atau sikapnya, penampilan fisiknya dimata kita. Semua terjadi dalam tiga menit pertama. Dan delapan menit sebelum kita menjadi bagian dari hidup seseorang adalah senyum nya, tindak tanduk nya, ekspresi wajahnya, tanda-tanda akhir pertemuan itu akan menjadi " Andai kita punya waktu bareng lebih lama lagi"

Buku yang bagus untuk menambah koleksi.



Bulan Terbelah di Langit Amerika


Sebuah catatan lama yang baru sempat di posting.

“Tidak seharusnya kita membenci seseorang hanya karena berbaju sama dengan para teroris, lalu membentur-benturkannya setiap saat dengan Amerika.  Dengan cerita saya ini, saya ingin kalian tahu, saya berhutang budi dan nyawa pada seorang muslim. Dan itu cukup untuk mengatakan, Islam bukanlah seperti para teroris yang memanipulasi pikiran dan hati kita selama delapan tahun terakhir ini. Ibrahim Hussein telah menunjukan padaku bahwa Islam itu begitu Indah, begitu teduh, dan sanggup mengorbankan jiwa dan raganya demi nonmuslim seperti saya. Saya adalah manusia yang sesungguhnya menganggap diri sendiri tidak berguna di dunia ini. Saya adalah orang yang tidak pernah dikenal Abe  sebelumnya, yang hanya dia kenal beberapa jam sebelum kematiannya. Jones dan Azima, ijinkan saya berkisah mengenai kejadian nyata dalam 100 menit yang mencekamkan itu …” (Philllipus Brown )
Bagi saya dan mungkin untuk banyak orang yang sudah membaca buku ini, bagian yang membuat mata berkaca-kaca adalah ketika Phillipus Brown menceritakan kisah nya bersama Abe. Andai cerita ini nyata dan dibaca banyak orang diseluruh dunia, mungkin akan memperbaiki pandangan dunia terhadap Islam. Ibrahim Hussein memperkenalkan Islam dengan begitu indah, Islam yang jauh dari kekerasan.

11 September 2001, dua pesawat berpenumpang yang di bajak menabrakan badan pesawat ke Menara Kembar World Trade Center di New York. Sejak hari itu, Amerika dan Islam, Islam dan Dunia tidak lagi sama.

Buku ini berkisah perjalanan Hanum dan Rangga dari Wina, yang dengan keajaiban Allah mendapatkan kesempatan yang sama untuk menginjakan kaki ke tanah Amerika. Hanum yang bekerja sebagai Reporter di sebuah majalah Heute ist Wunderbar, mendapatkan tugas dari Gertrud yaitu seorang jerman yang menjadi sahabat dan atasannya. Redaksi meminta Heute ist Wunderbar menulis sebuah artikel tentang tragedi 11 September 2001 “Would the world be better without Islam? ( akankah dunia lebih baik tanpa Islam? )”
Getrud meminta Hanum yang menulisnya dengan niat baik, jika seorang nonmuslim yang menulisnya pernyataan tersebut jelas akan terjawab “Ya” tapi jika ditulis oleh seorang muslim pasti akan berkesempatan dijawab “Tidak”. Sedangkan diwaktu yang sama Rangga juga harus ke Amerika untuk presentasi papernya yang mengambil tema tentang jutawan Amerika “Phillipus Brown”.

Buku ini diceritakan dengan begitu bagus. Antara kisah Hanum dan Rangga yang pada akhirnya menarik satu benang merah. Nara sumber Hanum  yaitu Azima Hussein yang kehilangan Ibrahim Hussein pada tragedy WTC pada 11 September 2001  ternyata mempunyai kaitan dengan Phillipus Brown yang merupakan seseorang yang menjadi tema dari paper yang diangkat Rangga. Ibrahim Hussein ternyata adalah sosok yang menyelamatkan Phillipus Brown pada tragedy tersebut dan membuat kehidupan Phillipus Brow berubah menjadi lebih bermanfaat untuk banyak orang.

Pengambilan Judul “Bulan terbelah dilangit Amerika” sangat cerdas. Buku ini menggambarkan betapa luasnya wawasan si penulis. Kisah Phillipus Brown yang menemukan Azima Husein. Layaknya tentang kisah yang pernah didengar Phillipus Brown tentang kisah nabi Muhammad membelah bulan.



Pages (11)1234567 Next »